Showing posts with label Motivasi. Show all posts
Showing posts with label Motivasi. Show all posts

Wednesday, June 10, 2009

How to be a Succesfull Wife

1. Use your 'Fitnah' to win the heart of your husband.
All women have the ornaments that Allah blessed them
with. Use the beauty Allah Ta'ala has bestowed you
with to win the heart of your husband.



2. When your husband comes home, greet him with a
wonderful greeting.

Imagine your husband coming home to a clean house,

an exquisitely dressed wife, a dinner prepared with care,
children clean and sweet smelling, a clean bedroom -
what would this do to his love for you? Now imagine
what the opposite does to him.

3. Review the characteristics of the Hoor Al-Ayn and
try to imitate them.
The Qur'an and Sunnah describe the women in Jannah
with certain characteristics. Such as the silk they
wear, their large dark eyes, their singing to their
husband, etc. Try it, wear silk for your husband, put
Kohl in your eyes to 'enlarge' them, and sing to your
husband.

4. Always wear jewelry and dress up in the house.
From the early years, little girls have adorned
themselves with earrings and bracelets and worn pretty
dresses - as described in the Qur'an. As a wife,
continue to use the jewelry that you have and the
pretty dresses for your husband.

5. Joke and play games with your husband.
A man's secret: they seek women who are lighthearted
and have a sense of humor. As Rasulullah (saw) told
Jabir to marry someone who would make him laugh and he
would make her laugh.

6. Thank your husband constantly for the nice things
he does.
Then thank him again. This is one of the most
important techniques, as the opposite is a
characteristic of the women of hellfire.

7. An argument is a fire in the house.
Extinguish it with a simple 'I'm sorry' even if it is
not your fault. When you fight back, you are only
adding wood to the fire. Watch how sweetly an argument
will end when you just say sincerely, "Look, I'm
sorry. Let's be friends."

8. Always seek to please your husband, for he is your
key to Jannah.
Rasulullah (saw) taught us that any woman who dies in
a state where her husband is pleased with her, shall
enter Jannah. So please him.

9. Listen and Obey! Obeying your husband is Fard! Your
husband is the Ameer of the household. Give him that
right and respect.

10. Make Dua to Allah to make your marriage and
relationship successful.
All good things are from Allah. Never forget to ask
Allah Ta'ala for the blessing of having a successful
marriage that begins in this Dunya and continues on -
by the Mercy of Allah Ta'ala - into Jannah, insya`allah

Wednesday, May 14, 2008

Mencintai MATI

Rasa mati adalah perasaan kesedaran yang tinggi bahawa suatu hari kita akan terbujur kaku selama-lamanya di sebuah pusara yang tertulis di atasnya nama, tanggal lahir dan tarikh mati kita. Perasaan ini merupakan sebuah warna yang sudah lama pudar dalam jiwa keseluruhan manusia.

Indikasi pupusnya rasa mati dalam diri manusia terlihat dalam kecintaannya yang hebat terhadap harta dan kemewahan dunia yang diburunya siang malam. Padahal ia tahu semua yang didambakan itu pasti akan ditinggalkannya. keadaan tersebut juga terpancar dalam kedahagaan yang mencambuk nafsunya sehingga beringas melanggar seluruh aturan, hukuman Tuhan demi tercapainya hasrat dunia yang sementara. Atau pada sambil lewan hatinya terhadap perintah-perintah Allah yang semakin menjauhkan dirinya dari kasih dan sayang Allah SWT.

Setiap hari manusia berlari ke sana ke mari mengusung nafsunya dan tenggelam dalam kesibukan duniawi yang ‘berhasil’ menjadikannya lupa atau pura-pura lupa akan hakikat mati. Banyak sekali yang akhirnya malah benar-benar terkapar dalam keindahan dunia sehingga habislah keyakinannya terhadap hakikat mati. Kondisi seperti inilah yang Allah tegur dalam firmanNya berikut:

Terjemahan:“Katakan, sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, justeru ia yang akan menemui kamu’. (Surah al-Jumu’ah 62: 8).

Manusia yang telah habis keyakinannya terhadap hakikat mati adalah manusia yang paling tidak punya nurani. Seluruh fakta tentang kematian yang lalu lalang di hadapannya setiap saat bagaikan angin lalu yang tidak memberi kesan apapun kepada dirinya. Ia acuh saja mendengar keluarga dekatnya, sahabatnya atau handai taulannya meninggal dunia. Bahkan menyaksikan pembantaian saudara-saudaranya sesama Muslim di kaca TV, masih boleh dilaluinya sambil menikmati semangkuk sup hangat tanpa merasa terganggu sedikitpun. Fenomena seperti ini mengingatkan kita pada hari Idul Adha, di mana kita menyaksikan seekor kerbau atau lembu disembelih, dikulit dan dipotong-potong dagingnya. Sementara kerbau atau lembu lain di sebelahnya masih bisa menikmati setumpuk rumput hijau tanpa merasa terganggu sedikitpun. Padahal ia juga akan disembelih pula pada keesokan harinya.

Beginikah Rasanya Mati?

Bayangkan sejambak rambut di kepala dicabut, atau selembar gam yang melekat di atas luka badan sejak seminggu dicabut. Tentulah sakit sekali rasanya. Lalu bagaimana pula gerangan jika nyawa yang sudah lekat di badan selama puluhan tahun dicabut? Kita tidak akan pernah dapat membayangkan kecuali dengan mendapatkan sumber berita yang berasal dari Nabi SAW dan para salafus soleh.
Dalam sebuah hadits marfu’ diriwayatkan oleh al-Hafizh Abu Na’im r.a. bahwa Rasulullah SAW telah bersabda:

“Demi yang diriku berada di tanganNya, kenyataan (sakitnya) maut itu lebih dahsyat dari seribu bilasan pedang.”

Amru bin Ash ketika menghadapi sakaratul maut ditanya oleh anaknya tentang rasa sakit yang dialaminya. Beliau berkata dengan lemahnya,
“Demi Allah wahai anakku, keadaan tubuhku seakan-akan berada dalam selimut api yang panas membara dan seolah-olah aku bernafas melalui lubang jarum. Aku juga merasa seakan-akan nyawaku melekat pada satu pohon yang penuh duri, kemudian ditarik dari ujung kaki sampai ke ubun-ubun.” Selanjutnya Amru bin Ash menangis seraya berkata,

“Kukejar dunia ini seakan-akan diriku kekal abadi. Sedangkan dibelakangku berlari sang maut merapati langkahku.
Duhai, cukuplah kematian itu sebagai nasihat dan peringatan.”

Demikianlah kesaksian yang dinyatakan oleh sahabat Nabi SAW. Bagaimana pulakah gerangan pengalaman kita peribadi kelak, saya dan anda? Sebaiknya kepada Allah saja kita segera berlindung agar diberi kemudahan dan keringanan saat akhir menutup mata.

Menyiapkan Bekal Kembali

Sahabat Nabi SAW Utsman bin Affan begitu gentar sekali hatinya setiap kali melewati tanah pekuburan. Sering didapati dia menangis sebaik saja melewati sebuah pemakaman. Ketika ditanya oleh seseorang dia menjawab,
“Ketahuilah olehmu, bahawa kubur merupakan pintu gerbang penentuan apakah seseorang akan kekal selama-lamanya dalam kebahagiaan atau kekal selama-lamanya dalam kesengsaraan dan penderitaan.”

Kita sama-sama mengetahui dan menyedari bahwa akhirat merupakan negeri abadi. Abadi berarti kekal dan tidak ada akhir atau penghujungnya. Malangnya lagi kita juga dihadapkan dengan kenyataan bahwa yang menentukan apakah kita akan senang dan bahagia, sengsara atau menderita dalam keabadian itu adalah rekod amal kita di dunia yang sebentar ini. Dalam erti kata lain, meskipun dunia ini akan berterusan seratus juta tahun lagipun, kesempatan kita untuk beramal hanya di sini, saat ini dan sekarang ini.

Sebagai ilustrasi, jika seseorang bekerja dengan sebuah perusahaan di sini dan tiba-tiba diarahkan untuk segera bertukar ke cawangan lain pada esok hari untuk jangka waktu lima tahun. Kira-kira apa yang akan dilakukannya? Tentulah sedapat mungkin dia akan sibuk mempersiapkan diri dalam keadaa waktu yang amat singkat itu. Dalam 24 jam itu pasti dia akan mengepak segala barang-barangnya, mencari pinjaman wang ke sana kemari, memberitahu dan mohon maaf ke seluruh keluarga dan kawan-kawannya yang lain-lain. Bahkan hampir dapat dipastikan malam itu ia tidak dapat melelapkan mata memikirkan keberangkatannya yang mendadak itu.

Ketahuilah bahawa waktu yang tersedia untuk kita mempersiapkan bekal perjalanan menuju akhirat lebih singkat dari ilustrasi yang saya utarakan tadi. Bahkan jangka waktu untuk kita menetap di sana adalah kekal abadi dan tidak terbatas. Yang dapat menyelamatkan kita hanyalah suatu kesedaran yang tinggi dan gerak amal yang konsisten bahwa setiap helaan nafas, ayunan langkah dan tangan selama di muka bumi kita niatkan benar-benar untuk beribadah kepada Allah. Kemudian kita sedari pula bahwa seluruh apa yang Allah perintahkan kita laksanakan dengan sekuat daya upaya kita. Manakala apa jua yang Allah tegah harus serta merta kita tinggalkan sama sekali.

Marilah kita sama-sama mencari cahaya Allah dengan berbuat sebanyak mungkin kebajikan di muka bumi, menebar kasih sayang, melakukan amal jariah, mempersiapkan anak-anak soleh yang dapat mendoakan kita saat terbaring di pusara dan menyumbangkan ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi umat. Hanya setelah itu saja kita baru akan merasa sedikit siap untuk berangkat kembali ke kampung akhirat, dan agak berani menunggu kedatangan malaikat Izrail.

Rabbana wahai Tuhan kami.
Anugerahkan kami taubat sebelum maut,
kasih sayangMu saat menghadapi maut
dan ampunanMu seusai maut menjemput.
Amin..


Moga kita mampu meraih Syurga yang untuk selamanya.. insya`allah. Ambillah kesempatan yang ada sebelum tidak berpeluang.

SENTIASALAH MENGINGATI MATI
MEMBUAT PERSIAPAN UNTUK MENYAMBUT KEDATANGAN MATI

Monday, April 28, 2008

Motivasi :- Remaja & Paradigma

Dalam realiti kehidupan masyarakat masa kini, kita berhadapan dengan pelbagai kuasa paradigma yang menuntut kita melakukan anjakan. Sama seperti orang lain, remaja juga tidak ketinggalan dilanda kuasa perubahan sosial yang amat ketara. Kegawatan sosial mengakibatkan remaja terpaksa melalui pelbagai cabaran dan rintangan. Walau apapun pengalaman mereka dengan interaksi persekitaran, mereka seharusnya mampu mencitra persekitaran mereka sendiri. Namun, persoalannya bagaimana?

Amatlah penting remaja menyedari bahawa mereka mempunyai pelbagai tanggungjawab dan tugas yang harus dijalankan agar mereka dapat diterima oleh sistem sosial sebagai sebahagian warga masyarakat. Sebenarnya, remaja mempunyai pilihan sama ada untuk terperangkap dalam permasalahan sosial atau berubah ke arah kebaikan sebagaimana yang telah digariskan oleh Islam.

Sedangkan, Islam amat menitik beratkan kemajuan dan perkembangan diri yang positif pada setiap individu. Justeru itu, untuk menjadi umat yang maju dan berdaya saing dalam menuju abad 21 ini, para remaja harus berani melakukan perubahan. Kita mesti mengambil usaha mengubah diri kit sebagaimana firman Allah S.W.T. yang bermaksud: "Sesungguhnya Allah tidak mengubah nasib sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri sendiri" (Surah Ar-Ra'd: 11).

Namun, untuk memastikan kejayaan terhadap perubahan yang ingin kita lakukan, kita mestilah mengenal pasti kaedah yang boleh membawa kepada kejayaan tersebut. Angan-angan atau impian tidak akan menjadi kenyataan tanpa usaha. Malah, dengan hanya berbekalkan semangat dan kemahuan semata-mata, ia tidak akan mencukupi untuk berubah tanpa kaedah yang sistematik. Untuk berubah dengan jayanya, ada beberapa langkah yang boleh diambil:

Bermula dengan kesedaran dan ilmu
Sebenarnya tarikan untuk berubah bermula dengan kesedaran. Oleh itu, untuk berubah menjadi remaja Muslim yang cemerlang, pertamanya kita perlu menyedari siapakah diri kita yang sebenarnya dan ke manakah arah tujuan kita? Disamping itu, kita perlu menilai apakah nilai hidup yang kita bawa untuk sampai kepada tujuan tersebut?

Justeru itu, remaja sangat perlu menyiapkan diri dengan ilmu keduniaan mahupun kerohanian supaya mereka tahu kenapa mereka perlu berubah ke arah kecemerlangan. Kekuatan ilmu akan menyerlahkan kematangan jiwa dan kemantapan berfikir yang akan membolehkan mereka mampumempertahankan
diri daripada segala cabaran yang mendatang. Dengan itu remaja akan sentiasa teguh berpegang dengan ajaran Islam dan melaksanakan amalannya dalam kehidupan mereka secara total.

Namun, remaja haruslah mengetahui bahawa sejauh mana sekalipun pengetahuan yang ada pada dirinya, ia tidaklah terjamin selagi pembentukannya tidak bersifat rabbani kerana tanpa sifat ini, ilmu
pengetahuan tidak akan dapat diasaskan pada takwa dan keredaan Allah S.W.T.

Mengenal pasti dimensi perubahan diri
Dalam Islam kita perlu mencari pembaharuan (islah) dari keadaan sekarang kepada yang lebih baik dan seterusnya kepada yang lebih cemerlang.Oleh yang demikian kita akan sentiasa mempertingkatkan diri
(ihsan) ke arah kesempurnaan (itqan).

Apabila prinsip islah, ihsan dan itqan mampu digarap, remaja akan meningkatkan tahap keimanan diri dan sentiasa berusaha untuk melayakkan diri ke tahap yang lebih tinggi tanpa berputus asa. Mendapatkan sesuatu yang terbaik, memperbaiki dan menambahnya merupakan suatu proses yang
berterusan dalam kehidupan remaja. Justeru itu, aktiviti mereka akanlebih terarah dan setiap kesempatan akan digunakan dengan sebaik-baiknya.

Memprogram sistem kepercayaan diri
Sebenarnya, kita ialah apa yang kita percaya. Sebagai contoh, sekiranya kita mempercayai bahawa diri kita ini tidak berguna dan tidak mampu menonjolkan akhlak yang mulia, kita akan terus mengamalkan perkara yang negatif dalam kehidupan seharian. Sesungguhnya kepercayaan kendiri menentukan had pencapaian yang akan kita capai. Batasan kepercayaan kendiri jugalah yang akan membataskan perkembangan diri seterusnya.

Justeru itu, kita harus memiliki sikap mental yang positif. Untuk itu, kita harus mengikis kepercayaan yang negatif dan sebaliknya membaharui diri dengan kepercayaan yang positif. Apabila kita memiliki sistem kepercayaan yang positif tentang diri kita, maka akan lahirlah tingkah laku atau natijah yang baik daripada individu tersebut.

Menjana perubahan yang berkekalan
Untuk memastikan perubahan yang berkekalan, kita perlu menyediakanskrip hidup kita dengan menetapkan matlamat dan berusaha untuk mencapai matlamat tersebut. Dengan kata-kata lain, remaja boleh menyediakanpernyataan misi peribadi, menetapkan matlamat dan merumuskan satu pelan
tindakan untuk mencapai matlamat. Remaja juga mestilah mengetahui caraberkesan untuk mencapai matlamat yang telah disasarkan.
Namun, amatlah penting remaja mengekalkan keinginan dan semangat yang mendalam serta berterusan untuk berubah dengan cemerlang.Pengesahan dan pernyataan positif yang dikatakan kepada diri sendiri akan merangsang individu untuk mencapai hasil yang diimpikan. Seterusnya,pengukuhan dan pengakuan diri mesti diteruskan pada setiap waktu agar perubahan yang dijana akan berkekalan.

Sebagai kesimpulan, remaja yang mempunyai wawasan jauh sertabertanggungjawab terhadap maruah diri, agama dan negara akan menyedaricabaran serta harapan yang dipertanggungjawabkan ke atas mereka. Remaja mestilah mengaplikasi syariat Islam dalam kehidupan seharian serta berazam untuk melakukan perubahan yang berterusan demi mempertahankan dan mengembalikan budaya Melayu Islam, di tempatnya yang asal.

Moga ada manfaatnya buat sekalian yang bergelar REMAJA MUSLIMAH.. Insya`allah.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.